Reyn's Lanes

Everyone has their own lane, and these … are mine


Sang Penunggu

Published by

on

Sang Penunggu

Eits! Sang penunggu yang ini, bukan seperti mereka dengan tampang seram bak dukun dalam film horor nan mencekam.

Sang penunggu itu adalah akyu. Yang manis, lembut, dan bersuara merdu.

Sekali lagi, dan semoga ini yang terakhir, aku menjadi sang penunggu itu. Menunggu dan menemani pasien, yang hari Minggu lalu masuk rumah sakit akibat perut yang melilit.

Ya, teman-teman, pak suami sejak Senin dini hari kemarin, dirawat di sebuah rumah sakit akibat bersarangnya batu pada empedu.

Rasa sakit yang dirasanya, mirip seperti gejala pada gastritis alias gestrik alias maag. Awalnya kuanggap tidak terlalu berat karena persediaan obat gestrik di rumah lumayan lengkap. Apalagi setiap habis menelan dua butir obat, sakitnya berangsur hilang.

Aman? Oh, tentu tydac!

Minggu pagi, sesaat sebelum kutinggal ia pergi untuk bertugas menjaga booth di sebuah event, sesuatu yang aneh nampak di matanya. Warna matanya tak lagi putih, tapi menguning! Literally … kuning!

Sebagai mantan penderita sakit kuning di masa kecil dulu, ini seperti alarm. Pasti ada sesuatu dengan liver-nya. Apalagi warna urin yang seperti air teh, dan stool yang berwarna pucat.

Fix! Ayo kita ke dokter!

Oh, tidak segampang itu!

Tidak mudah mengajak para bapak untuk pergi memeriksakan kesehatannya ke rumah sakit. Membujuk dengan 1001 rayuan pun tak pernah mempan. Hingga akhirnya pada pukul 11 malam, sakit perut dan punggungnya kembali datang. Ia pun lalu menyerah. Membiarkanku menyiapkan segala hal untuk berangkat ke rumah sakit di tengah malam.

Beruntung pagi harinya, kami sempat mem-briefing para krucils untuk bersiap-siap dengan kemungkinan, sang ayah admitted atau di-opname untuk jangka waktu yang tidak tentu.

Akhirnya tengah malam itu kami tiba di A&E atau UGD rumah sakit. Setelah melakukan cek darah dan observasi, dokter menyimpulkan ia mengalami high liver enzyme. Suatu keadaan dimana terdapat pembengkakan atau kerusakan sistem sel pada livernya.

Akhirnya admitted lah ia dini hari itu.

Sang penunggu, dalam keadaan perut kosong dan ngantuk, harus menemani-nya dalam ruang kecil yang dinginnya bikin menggigil. Sakit kepala, badan hingga ke tulang pun datang menyerang.

Sesampainya di kamar, lumayan … bisa juga kumerebahkan badan di sebuah sofa yang seukuran tinggi bocah ingusan. Kecil, sempit. Boleh, lah! Asal bisa tidur sudah.

Sayangnya, malam itu tak juga bisa kupejamkan mata. Dinginnya ruangan, membuat tubuh kembali menggigil semalaman. Darn! Mungkin juga karena belum kemasukan makanan. Kantin kecil yang ada di lantai satu sudah tutup, hanya ada vending machines berisi minuman dan cemilan yang tak mampu mengenyangkan.

Esok harinya, perawat memberi kabar bahwa sang penunggu harus membayar $95 per hari sebagai lodger atau penyewa kamar. Tentu saja mendapat jatah makan yang bikin senyum mekar.

Sembilan puluh lima dollar! Hampir sejuta rupiah untuk bergelar sang penunggu kamar nomor satu, rumah sakit swasta di sudut timur kota singa. 🤣 Tentu saja kesempatan memilih menu terbaik dan termahal jadi pilihan.

Lobster, lobster, dan lobster untuk sarapan, makan siang, lalu makan malam jadi sasaran. Iya, lah! Sejuta sehari, Bok! 🤣 Jadi penunggu kan juga harus memperhatikan kesejahteraan dan kesehatan. Karena ketika perut kenyang, tidur pun nyaman.

My Food!
His Food! LOL!!

Hari ini pak suami pindah lokasi ke Mount E, rumah sakit idola para selebriti, untuk melakukan laparoskopi. Pengangkatan batu empedu yang mencelat keluar dan menghalangi sistem pencernaan. Setelah selesai, kami akan kembali ke rumah sakit pertama.

Pada Rabu 2 Agustus 2023 esok, pak suami akan menjalani operasi pengangkatan empedu. Konsekuensi setelah empedu-nya hilang, ia harus berhati-hati dan memperhatikan pola makan. Rencana dokter hingga Jumat nanti, ia masih akan di-observasi untuk menghindari komplikasi.

Terima kasih pada teman dan kerabat yang datang berkunjung, mengirim doa, pesan singkat, kalimat indah, dan tetap ada di saat yang tidak mudah.

Jaga kesehatan ya, teman-teman. Karena sehat itu mahal.

Literally … mahal!

Salam sayang,
яєяє

Leave a comment