Reyn's Lanes

Everyone has their own lane, and these … are mine


Good Became Vain. Foolish. Weak.

Published by

on

Good Became Vain. Foolish. Weak.

Kalimat ini terucap dari mulut Rafal, tokoh jahat dalam film bergenre fantasy, “The School For Good & Evil”, yang nyatanya sarat dengan pesan moral indah sekali.

Semua bermula dari kisah persahabatan antara Sophie dan Agatha. Bagaimana Sophie selalu membela Agatha yang kerap mengalami perundungan akibat penampilan fisiknya yang “berbeda”. Pembelaan Sophie ini ternyata begitu membekas di hati Agatha. Hingga ia rela melakukan apapun untuk melindungi sahabatnya.

Kemarahan Agatha awalnya menunjukkan ia adalah sosok si evil. Sementara kebaikan Sophie nyata sekali kebalikannya. Sampai akhirnya mereka terjebak masuk di dua sekolah yang justru berbeda. Agatha masuk ke sekolah Good untuk mereka yang disiapkan menjadi penyelamat dunia. Sementara Sophie terjerembab di sekolah Evil, di antara para murid calon tokoh jahat di muka bumi.

Sekolah ini awalnya ada sebagai penyeimbang kebaikan dan kejahatan. Sampai akhirnya kejahatan hampir menang dan membuat semua kebaikan hilang.

Film ini membuat kita berpikir, bahwa sebenarnya tidak ada seseorang yang betul-betul baik ataupun benar-benar jahat.

Kebaikan jika kerap tidak dianggap, tak terlihat, atau sering disalahgunakan lama kelamaan bisa membuat seseorang lemah. Lemah, dan terlalu sedih hingga menyerah pada sinisme, narsisme, akibat kemarahan yang tersimpan atau dendam yang tak terbalaskan.

Kejahatan nyatanya memang berawal dari kekecewaaan. Akibat merasa diabaikan, merasa tidak diterima lingkungan, hingga muncul iri hati, dengki, atau kekesalan melihat orang lain yang hidupnya seakan tanpa kekurangan.

Namun apa arti hidup tanpa adanya kebaikan dan keburukan. Toh, pada akhirnya semua akan diputuskan oleh masing-masing jiwa. Melalui pengembaraan dan perjalanan yang kerap kali menemui tajamnya kerikil kehidupan.

Si baik tidak perlu berubah dengki jika dalam hati masih penuh empati. Karena kebaikan adalah tentang menyebarkan kasih, menyayangi, dan peduli pada sesama. Sementara kejahatan sebenarnya hanya tentang melawan diri sendiri saja. Sayangnya, semua ini justru seringkali tak tampak dengan mudah di hadapan, karena sibuk melihat dan mencari-cari keburukan orang.

Padahal itulah kutukan kejahatan … hilangnya kemampuan untuk melihat kebaikan.

“Only the best evil can disguise as good.”

Be Kind.
яєяє

Leave a comment

Previous Post
Next Post