Reyn's Lanes

Everyone has their own lane, and these … are mine


Perempuan Gila

Published by

on

Perempuan Gila

“Punya uang banyak dulu, baru datang ke mari untuk temui anakmu!”

Kutatap wajah lelaki yang begitu kucintai itu sambil tertegun. Otakku berpikir keras, dari mana akan kudapatkan uang yang banyak, sementara dunia kerja pun aku tak pernah tahu bentuknya.

Bukankah ia yang bersikeras melamarku setelah meninggalkan bangku SMP dulu? Cinta setengah mati dan takut kehilangan, katanya waktu itu.

Cinta mati yang dengan mudah ternyata berubah, ketika seseorang bernama Rani hadir di tengah kehidupan kami. Rani, sang mantan kekasih, yang ditemuinya kembali dari sebuah acara reuni.

Sial kau, Rani!

Kehadiran perempuan yang masih nampak cantik dan seksi itu, benar-benar menghancurkan kebahagiaan yang selama bertahun-tahun kunikmati. Bahkan anak semata wayang kami kini tak bisa lagi kutemui.


Taiwan, Desember 1998

“Jum! Hey! Kau paham tidak perintahku barusan?”

Bentakan perempuan setengah baya berwajah oriental itu, menyadarkan lamunan tentang masa lalu. Sambil tertunduk, ucapan maaf terlontar dari lidahku yang kelu.

Dengan gontai kulangkahkan kaki menuju sebuah kamar, untuk memenuhi permintaan sang perempuan bergincu tebal. Perempuan yang kupanggil Madam. Meski segan dan sudah membayangkan kengiluan, air mata ini enggan untuk tumpah. Aku sudah bosan menangis dan meratapi kehidupan.

Pelan, kubuka pintu kamar dan mendapati seorang lelaki tua bangka tersenyum kegirangan. Di tangannya tergenggam sebuah cambuk panjang. Cambuk yang dipakainya untuk menyiksaku setiap kali ia datang berkunjung, untuk memuaskan nafsu.

Nafsu yang dalam sekejap berubah menjadi jerit pilu.

“Tolongg! Perempuan gila! Aarrgghh!”

Kutatap sekilas lelaki tua yang matanya melotot menatapku, sambil berusaha melepas ikatan cambuk di lehernya itu.


“Aku hanya membela diri. Aku tak ingin melakukan pekerjaan hina ini, meski punya uang banyak adalah syarat untuk bisa memelukmu lagi. Maafkan Umak, Nak,” bisikku pelan, sebelum leher ini terjerat tali gantungan.

๐™„๐™ฃ๐™™๐™ค๐™ฃ๐™š๐™จ๐™ž๐™–๐™ฃ ๐™ข๐™–๐™ž๐™™, ๐™–๐™ง๐™ง๐™š๐™จ๐™ฉ๐™š๐™™ ๐™›๐™ค๐™ง ๐™–๐™ก๐™ก๐™š๐™œ๐™š๐™™๐™ก๐™ฎ ๐™ข๐™ช๐™ง๐™™๐™š๐™ง๐™ž๐™ฃ๐™œ ๐™– 75 ๐™ฎ๐™š๐™–๐™ง ๐™ค๐™ก๐™™ ๐™ข๐™–๐™ฃ, ๐™ฌ๐™–๐™จ ๐™›๐™ค๐™ช๐™ฃ๐™™ ๐™๐™–๐™ฃ๐™œ๐™ž๐™ฃ๐™œ ๐™ž๐™ฃ ๐™๐™–๐™ž๐™˜๐™๐™ช๐™ฃ๐™œ ๐™Ÿ๐™–๐™ž๐™ก ๐™˜๐™š๐™ก๐™ก.

(Rayuan Perempuan Gila – Nadin Amizah)

Rayuan Perempuan Gila – Nadin Amizah (Cover)

Leave a comment

Previous Post
Next Post