Reyn's Lanes

Everyone has their own lane, and these … are mine


REPENT

Published by

on

REPENT

Bertafakur di tengah panasnya matahari kota Mekkah lalu sholat di antara banyaknya manusia dari seluruh dunia, membuat jiwa ini melakukan banyak perenungan. Sambil memperhatikan sifat dan karakter insan yang lalu lalang di hadapan.

Tadi ketika sholat, seorang perempuan paruh baya asal Uzbekistan ribet sekali dengan segala gerakku. Mengira aku berkebangsaan Turki, kami pun bicara bak ayam dan itik. Tapi yang kutangkap adalah ia mengomentari itu ini.

Awalnya, ia melarangku menjulurkan kaki ke depan. Padahal aku cuma ingin membetulkan posisi sandal yang kududuki sebelum menekuk kaki kembali. Kujawab saja dengan senyum dan terima kasih karena sudah menegur. Maksudnya baik kok, begitu kuselipkan pikiran positif dalam hati.

Kemudian ia kembali menanggapi catatan kecil, yang di dalamnya kutulis beberapa nama sahabat serta keluarga, yang minta didoakan di depan multazam. Ia lalu terkekek sambil membaca beberapa nama. Gerakan tangannya mengisyaratkan, tak perlu mengucapkan nama-nama itu di depan Kaabah. Meski aku juga tak tahu pasti, apa betul itu maksudnya.

Kali ini sedikit tersinggung melihat kekepoannya mengintip catatan lalu membaca beberapa nama sambil tertawa, tajam kutatap matanya sambil mengucap istigfar. Meski malas bertanya, kenapa. Kalau bukan di tanah haram, sudah pasti akan kuhadapi ia sambil bertanya.

“Apa yang membuatmu tertawa?”

Belum berhenti di situ, ketika kubuka ponsel untuk mengecek jadwal sholat, dengan tanpa basa basi tangannya menekan layar ponselku sambil menunjuk ke arah informasi waktu. Yang kutangkap adalah ia mau memberi tahu bahwa sebentar lagi waktu sholat Dzuhur.

Tak kusahuti namun mata tertuju pada arah sejadahnya yang tak lurus menghadap kiblat. Padahal Kaabah di depan mata saja, dan sebentar lagi waktu sholat akan tiba.

Kudiamkan, tak kubetulkan arahnya. Sambil merenung, begitulah selalunya manusia.

Kesalahan sendiri tak terlihat bahkan jarang diakui, tapi melihat keburukan orang lalu menyalahkan, jago sekali. Sama seperti perempuan asal Uzbekistan tadi.

Terakhir adalah ketika sholat jenazah. Semua orang melakukan gerakan yang sama, hanya ia dan temannya saja yang berbeda. Begitu melihat bahwa gerakan yang dilakukannya tidak sama, ia pun terlihat kebingungan.

Harusnya tadi aku memberitahunya tentang arah sajadah dan gerakan sholat-nya yang salah, ya? Tapi mulut ini malas sekali mengomentari. Sambil berdoa dalam hati akan ada seseorang yang menegur nanti. Benar saja, tak lama seorang askar perempuan mendekati dan menyuruhnya memutar arah sejadah dengan rapi. Sholat-nya sih tak ada yang menegur. Sudah selesai pun.

Kurasa sih, perempuan itu tak merenung sepertiku. Bahwa saking sibuknya memperhatikan orang lain, sampai arah sholat dan sholat-nya sendiri berantakan. Namun aku tak marah, tak emosi, bahkan merasa ini adalah sebuah teguran.

Sebuah teguran sederhana, tapi sangat mengena. Bagaimana IA mengingatkan untuk selalu tafakur dan melakukan refleksi. Bahwa diri sendiri ini tempatnya salah dan khilaf. Banyak bercermin lebih baik untuk memperbaiki diri daripada sibuk mengomentari. Karena sejatinya, setiap kali kita menghakimi, mungkin ada irisan hati yang belum selesai dihadapi.

Sebait doa turut terucap dari sudut hati. Semoga IA memaafkan semua salah akibat laku, lisan, maupun tulisan yang mungkin menyakiti. Seraya berjanji, perjalanan kali ini akan mengubah hati dan diri. Janji.

Mecca,
яєяє

Leave a comment

Previous Post
Next Post