Mama Fatma
Kutemui ia sebelum azan Zuhur berkumandang.
Sajadah yang dipakainya, di hadapanku ia bentang.
Untuk berbagi tentu saja, ia tak pikir panjang.
Padahal lantai Masjidil Haram sudah cukup untukku meletakkan dahi lalu bersujud.
Dinginnya, membuat dahi tanpa alas pun cukup.
Tapi perempuan dengan kaus kaki berlubang itu tak butuh minta ijin, untuk berbagi sajadah denganku.
Selesai Tahiyatul Masjid kuucap terima kasih.
Ia lalu mengajak berkenalan, lagi-lagi bak ayam dan itik, yang kutahu hanya namanya Fatma dan ia berasal dari Egypt.
Ketika tahu bahwa aku datang untuk bekerja, ia mencium dahi dan kepalaku penuh kasih.
Untaian doa terucap, meski tak ku tahu apakah arti.
Sajadah sederhana yang ia bentang untuk sujudku, kubalas doa sepenuh hati.
Semoga Allah membalas dengan banyak keberkahan hidup dan semua kebaikan hingga akhir nanti.
Terima kasih.
Sudah jadi orang pertama yang membentang sejadah untuk berbagi.
Indah sekali dunia ini, kalau semua orang punya hati.
Sebaik Mama Fatma, yang kaus kakinya berlubang di sana sini.
Mecca,
яєяє


Leave a comment