IBUMU, IBUMU, IBUMU
Hubunganku dengan ibu tak selalu mulus. Aku bahkan pernah kabur dari rumah karena merasa ia tak pernah mengerti. Mengerti bahwa putri sulungnya sedang sedih kala diberhentikan dari tempatnya bekerja, akibat politik dunia kerja.
Aku yang sedang semangat menjalani tugas baru, terhalang bisik-bisik liar dari mulut-mulut bau. Aku sedang berduka, dan ibu tidak mau tahu. Sebuah kata yang diucapkan penuh emosi menyulut kemarahanku. Hingga berbekal selembar dua puluh ribu, aku meninggalkan rumah dengan seribu bisu.
Sakitnya ibu membawa kembali ke rumah langkahku. Saling berpelukan dan meminta maaf menjadi akhir perang dingin kami berdua. Adalah ayah yang menjadi penengah dan penyejuk jiwa dua perempuan keras kepala, istri dan putri sulungnya.
Ibuku memang keras, dan dulu sangat temperamental. Mungkin karena ia juga dibesarkan oleh ibu yang tidak biasa mengucapkan cinta. Meski sang ayah sangat penyayang, namun ia juga pernah menorehkan luka. Tak heran, ibuku begitu keras karena ia membentengi diri dari perih dan duka. Begitulah juga ia mendidikku si anak sulung. Harus jadi contoh, tidak boleh mengeluh, dan harus membawa nama baik keluarga, seperti dogma yang ia bawa dari rumahnya.
Bertahun setelahnya, kujalani hidup sendiri jauh dari ibu dan semua keluarga. Kadang kurasa duka namun kupikir lebih banyak suka. Bagaimana tidak, aku hidup bebas, tak lagi mendengar omelan dan kerasnya didikan ibu. Bertahun-tahun sesudahnya, aku tetap bertahan hidup sendirian, meski kadang sakit hingga luka atau putus asa, terpaksa kutelan. Kunikmati hidup tanpa siapapun bisa melarang.
Semua berubah di hari kelahiran putri sulungku. Tangisku pecah membayangkan ibu yang dulu harus melahirkan, dengan kondisi sungsang dan terbelit tali pusar. Ia berjuang antara hidup dan mati melahirkanku dengan normal, karena keadaan ayah tidak memungkinkannya untuk bisa punya banyak keinginan. Jaman sekarang, dokter pasti akan memintanya untuk operasi saja. Ibuku … ia tidak punya pilihan.
Ibu berjuang bahkan hingga aku membesar, ia memastikan putri kecilnya tetap bisa makan meski hanya seadanya. Ayahku seorang abdi negara yang jujur. Pada masa itu bukan profesi yang mentereng hingga bisa membuatnya hidup makmur. Kuhabiskan masa kecilku di sebuah barak serdadu dengan kondisi yang tidak mujur.
Berpuluh tahun hingga kini, masih kujalani hidup tanpa kehadiran ibu di sisi. Jika ia datang berkunjung, hidup berubah ringan dan penuh senandung. Tak lagi kuingat kisah yang lalu, bahkan doa restunya selalu kuminta untuk mengiringi langkah. Mencium kaki, meminta maaf, memberikan apapun yang ia minta, semua adalah wujud cinta dan sayangku untuknya. Hanya berharap ia tak putus menengadahkan tangan untuk memberiku doa agar hidupku selalu baik saja.
Bahagialah kalian jika orang tua masih ada di sisi. Sulit rasanya membayangkan, harus menjalani hari jika mereka sudah tak ada lagi. Berbaktilah, jangan buat mereka gundah. Doanya menembus awan dan akan menjadi bekal menjalani hari di dunia yang penuh kepahitan.
Hey! Gadis muda yang sekarang serba sok tahu, hingga lupa bahwa bagaimanapun ibumu, ia yang akan selalu ada untukmu. Ia yang akan jadi satu-satunya tempat berlari, ketika dunia sudah tak baik lagi. Kembali dan bersujud di kakinya, sebelum penyesalan datang tanpa bisa diulang.
Love, ૨ε૨ε


Leave a comment